«

»

Sep 17

Apersepsi dan hubungan dalam proses pembelajaran.

a. Apersepsi dan hubungan dalam proses pembelajaran.

Jawaban:

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud apersepsi adalah pengamatan secara sadar (penghayatan) tentang segala sesuatu dalam jiwanya (dirinya) sendiri yang menjadi dasar perbandingan serta landasan untuk menerima ide-ide baru.[1] Banyak ahli yang berusaha mendefinisikan arti apersepsi, namun untuk lebih mudah memahaminya, maka saya mengartikan apersepsi sebagai suatu proses menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan yang baru.

Menurut Nurhasnawati, apersepsi bertujuan untuk membentuk pemahaman. Seperti yang dikutip di dalam bukunya yang berjudul Strategi Pengajaran Mikro yakni, jika guru akan mengajarkan materi pelajaran yang baru perlu dihubungkan dengan hal-hal yang telah dikuasai siswa atau mengaitkannya dengan pengalaman siswa terdahulu serta sesuai dengan kebutuhan untuk mempermudah pemahaman.

Contoh usaha guru untuk membuat kaitan dengan aspek yang relevan

1.      Dalam permulaan pelajaran guru meninjau kembali sampai sejauh mana materi yang sudah dipelajari sebelumnya dapat dipahami oleh siswa dengan cara guru mengajukan pertanyaan pada siswa, tetapi dapat pula merangkum materi pelajaran terdahulu.

2.      Membandingkan pengetahuan lama dengan yang akan disajikan. Hal ini dilakukan apabila materi baru itu erat kaitannya dengan materi yang akan dikuasai.

3.      Guru menjelaskan konsep/pengertiannya. Hal ini perlu dilakukan karena materi yang akan dipelajari sama sekali materi baru.[2]

Lebih luas lagi tujuan apersepsi antara lain:

1.      Mencoba menarik mereka ke dunia yang kita ciptakan

Perlu dipahami bahwa tidak semua siswa mengerti terhadap apa yang akan kita ajarkan. Tidak semua juga yang menyadari bahwa pemahaman akan pelajaran lama bisa kembali bermanfaat di pelajaran yang akan dipelajari. Pembelajaran terkadang merupakan suatu kesatuan yang terangkai antara satu materi dengan materi lainnya dan dengan melakukan apersepsi maka akan menyadarkan siswa bahwa materi yang akan dipelajari memiliki relevansi dengan materi yang telah dipelajari.

2.      Mencoba menyatukan dua dunia

Walaupun dapat dikatakan materi satu dengan yang lainnya memiiki perbedaan, namun  ada materi-materi tertentu yang memiliki relevansi  dengan materi sebelumnya. Sehingga kiranya sangat perlu bagi guru untuk menyatukan dan menghubungkan antara kedua materi tersebut.

3.      Menciptakan atmosfir

Suasana harus tetap selalu dijaga dan dibentuk sedemikian rupa agar tetap terus terpelihara suasana yang kondusif bagi bagi siswa untuk belajar. Selain itu apersepsi bukan hanya membentuk armosfir fisik yang baik, namun juga dapat membentuk suasana psikologis yang baik sehingga menimbulkan perasaan mampu untuk mempelajari materi baru.

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa apersepsi memiliki kaitan yang erat di dalam proses pembelajaran. Apersepsi harus dilakukan oleh guru ketika ingin mengajarkan materi. Dengan adanya apersepsi maka dapat memberikan dasar awal siswa untuk mempelajari materi yang baru, dengan demikian maka apersepsi dapat memberikan kemudahan siswa dalam belajar. Proses belajar tidak dapat dipisahkan peristiwa-peristiwanya antara individu dengan lingkungan pengalaman murid, maka sebelum memulai pelajaran yang baru sebagai batu loncatan, guru hendaknya berusaha menghubungkan terlebih dahulu dengan bahan pelajarannya yang telah dikuasai oleh murid-murid berupa pengetahuan yang telah diketahui dari pelajaran yang lalu atau dari pengalaman.

b. Konsep Motivasi dan Bentuk-Bentuknya

Jawaban:

Menurut Mc Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan tehadap adanya tujuan. Menurut Sardiman, Motivasi adalah daya penggerak yang menjadi motif aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan/mendesak[3]. Menurut Ngalim Purwanto, motivasi merupakan pendorong bagi perbuatan seseorang. Ia menyangkut soal  mengapa seseorang berbuat demikian dan apa tujuannya sehingga ia berbuat demikian.[4] Sedangkan Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar dan menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan tercapai.[5] MenurutMartinis Yamin mengungkapkan motivasi belajar merupakan daya penggerak psikis dari dalam diri seseorang untuk dapat melakukan kegiatan belajar dan menambah keterampilan dan pengalaman.[6]

Sardiman mengemukakan bahwa ciri-ciri motivasi yang ada pada diri seseorang adalah

1.      Tekun dalam menghadapi tugas.

2.      Ulet menghadapai kesulitan.

3.      Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah.

4.      Lebih senang bekerja mandiri.

5.      Cepat bosan dengan tugas-tugas yang rutin.

6.      Dapat mempertahankan pendapatnya.

7.      Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini.

8.      Senang mencari dan memecahkan masalah.[7]

Sardiman juga mengemukakan beberapa fungsi motivasi dalam proses pembelajaran :

1.      Mendorong manusia untuk berbuat atau melakukan sesuatu

2.      Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah mana tujuan yang akan dicapai

3.      Memiliki strategi untuk mencapai sukses

4.      Membuat siswa berani berpartisipasi

5.      Membangkitkan hasrat ingin tahu pada siswa

6.      Menyempurnakan perhatian siswa[8]

Bentuk-bentuk motivasi:

1. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya.

a.       Motif-motif bawaan, yaiktu motif yang dibawa sejak lahir, jadi motivasi ini tanpa dipelajari.

b.      Motif-motif yang dipelajari, maksudnya motif-motif yang timbul karena dipelajari.

2.      Motivasi jasmaniah dan rohaniah

Yang termasuk motivasi jasmaniah seperti refelks, instink, otomatis, nafsu. Sedangkan yang termasuk motif rohaniah, yaitu kemauan

3.      Motivasi intrinsik dan ekstrinik

a.       Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau keberfungsiannya tidak perlu dirangsang dari luar, karena di dalam diri sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.

b.      Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan keberfungsiannya karena adanya perangsang dari luar.[9]

c. Konsep Need Assessment

Jawaban:

Need Assessment (analisis kebutuhan) adalah suatu cara atau metode untuk mengetahui perbedaan antara kondisi yang diinginkan/seharusnya (should be / ought to be) atau diharapkan dengan kondisi yang ada (what is).

Ada empat tahap dalam melakukan analisa kebutuhan menurut Morrison, yakni perencanaan, pengumpulan data, analisa data dan menyiapkan laporan akhir.

1.      Perencanaan : yang perlu dilakukan; membuat klasifikasi siswa, siapa yang akan terlibat dalam kegiatan dan cara pengumpulannya.

2.      Pengumpulan data : perlu mempertimbangkan besar kecilnya sampel dalam penyebarannya (distribusi).

3.      Analisa data : setelah data terkumpul kemudian data dianalisis dengan pertimbangan : ekonomi, rangking, frequensi dan kebutuhan.

4.      Membuat laporan akhir : dalam sebuah laporan analisa kebutuhan mencakup empat bagian; analisa tujuan, analisa proses, analisa hasil dengan table dan penjelasan singkat, rekomendasi yang terkait dengan data.

Ada enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk merencanakan dan mengadakan analisa kebutuhan menurut Morrison:

1.      Kebutuhan Normatif, membandingkan peserta didik dengan standar nasional, misal, UN, SNMPTN, dan sebagainya.

2.      Kebutuhan Komperatif, membandingkan peserta didik pada satu kelompok dengan kelompok lain yang selevel. Misal, hasil UN SLTP A dengan SLTP B.

3.      Kebutuhan yang dirasakan, yaitu hasrat atau keinginan yang dimiliki masing-masing peserta didik yang perlu ditingkatkan. Kebutuhan ini menunjukan kesenjangan antara tingkat ketrampilan/kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan. Cara terbaik untuk mengidentifikasi kebutuhan ini dengan cara interview.

4.      Kebutuhan yang diekspresikan, yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu diekspresikan dalam tindakan. Misal, siswa yang mendaftar sebuah kursus.

5.      Kebutuhan Masa Depan, yaitu mengidentifikasi perubahan-perubahan yang akan terjadi dimasa mendatang. Misal, penerapan teknik pembelajaran yang baru, dan sebagainya.

6.      Kebutuhan Insidentil yang mendesak, yaitu faktor negatif yang muncul di luar dugaan yang sangat berpengaruh. Misal, bencana nuklir, kesalahan medis, bencana alam, dan sebagainya.

Morrison membagi fungsi penilaian kebutuhan sebagai berikut:

1.      Mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa yang mempengaruhi hasil pembelajaran.

2.      Mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain yang menggangu pekerjaan atau lingkungan pendidikan

3.      Menyajikan prioritas-prioritas untuk memilih tindakan.

4.      Memberikan data basis untuk menganalisa efektifitas pembelajaran[10].

d. Keterampilan Verbal dan Nonverbal dan Bentuk-Bentuknya

Jawaban:

Keterampilan verbal dan nonverbal merupakan keterampilan yang harus dimiliki guru. Keterampilan verbal merupakan keterampilan guru dalam berbicara/lisan. Penggunaan suara yang datar tanpa variasi akan membuat siswa bosan. Kemampuan verbal ini dapat diarahkan guru dalam memberikan penguatan. Penguatan verbal adalah suatu penguatan yang dilakukan guru dengan menggunakan kata-kata atau  kalimat tertentu.[11] kata-kata bagus, ya, tepat, benar, betul, dsb.

Bentuk-bentuk keterampilan verbal:

1.      Variasi suara adalah perubahan suara dari keras menjadi lemah, dan tinggi menjadi rendah, dari cepat menjadi lambat. Seorang guru pada saat menjelaskan materi pelajaran hendaknya bervariasi, baik dalam intonasi, volume, nada dan kecepatan. Jika suara guru senantiasa keras terus atau terlalu keras, justru akan sulit diterima, karena siswa menganggap gurunya seorang yang kejam, bila sudah begitu siswa diliputi oleh rasa cemas, ketakutan selama belajar. Masalah seperti ini yang harus dihindari bahkan ditiadakan. Tapi kalau suara guru terlalu lemah (biasanya guru wanita) akan terdengar tidak jelas oleh siswa dan tidak bisa menjangkau seluruh siswa di kelas, apalagi yang duduknya dideretan belakang.

2.      Lagu bicara atau intonasi suara mempunyai pengaruh pada daya tangkap siswa terhadap pembicaraan guru. Lagu bicara yang datar (monoton) akan membosankan siswa, sehingga siswa cepat lelah dalam mendengarkan. Demikian pula lagu bicara yang naik turun atau bersendat-sendat. Hal seperti ini sering menjadi bahan tertawaan siswa dan cenderung ditirukan dengan maksud mengejek, akibatnya konsentrasi mereka rusak. Disini juga menganjurkan adanya tekanan bicara, yang mana diberikan pada hal-hal yang penting, misalnya dalam menyebutkan definisi, istilah, nama, rumus, dan kata-kata asing dengan ucapan pelan-pelan dan jelas dengan volume suara yang cukup. Kelancaran bicara juga patut diperhatikan karena mempunyai pengaruh yang besar pada daya tangkap siswa. Jadi, seyogyanya sebelum satu kalimat dikeluarkan atau dibicarakan lebih dulu difikirkan susunan yang benar ditinjau dari segi tata bahasa.

3.      Kejelasan kat-kata dalam menjelaskan harus di utamakan sehingga siswa mengerti terhadap apa yang dijelaskan. Selain itu penekanan huruf vokal juga perlu dilakukan.

Keterampilan nonverbal adalah keterampilan guru dalam menggunakan bahasa-bahasa tubuh/gerakan dalam mengajar sehingga dapat memusatkan perhatian siswa.

Ada beberapa bentun keterampilan nonverbal, yakni:

1.      Gerakan badan mimik

Variasi dalam ekspresi wajah guru, gerakan kepala, dan gerakan badan adalah aspek yang sangat penting dalam mengajar, gunanya adalah untuk menarik perhatian dan menyampaikan pesan atau arti dari pesan lisan yang dimaksudkan.

2.      Kontak pandang

Bila guru sedang berinteraksi dengan siswanya sebaiknya pandangan menjelajahi semua kelas dan melihat ke mata-mata murid untuk menunjukan adanya keintiman dengan mereka[12].

3.      Pergantian posisi guru di dalam kelas

Pergantian posisi guru di dalam kelas dapat digunakan untuk mempertahankan perhatian siswa. Gerakan guru yang ditampilkan wajar, bertujuan, dan bebas[13].

4.      Sentuhan

Sentuhan yang dilakukan dapat dengan menepuk-nepuk pundak siswa, berjabat tangan, dll.

5.      Pendekatan

Ketika guru mendekati siswa maka akan dapat menumbuhkan kesenangan dan perhatiannya kepada pembelajaran.

2. Sebutkan tiga langkah utama yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran

Jawaban:

Conners mengindentifikasikan tugas mengajar guru menjadi tiga tahap, yakni:

a. Tahap sebelum pengajaran

Dalam tahapan ini guru harus menyusun: Program tahunan pelaksanaan kurikulum, program semester atau catur wulan pelaksanaan kurikulum, program satuan pengajaran dan perencaaan program mengajar.

Persiapan yang harus dilakukan guru meliputi persiapan tertulis dan tidak tertulis.Persiapan yang tidak tertulis antara lain

1.      Menyediakan alat-alat pembelajaran

2.      Menyediakan pelajaran di papan tulis

3.      Mempelajari dan menguasai bahan yang akan diajarkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>